Agama Shinto di Jepang

You are here Home  > Agama >  Agama Shinto di Jepang

Shinto dalam bahasa Jepang berarti “jalan para dewa” adalah kepercayaan asli orang Jepang sejak dahulu kala. Agama Shinto di Jepang adalah agama mayoritas, diikuti oleh agama Buddha, Kristiani, Muslim, dan lainnya.

Pendahuluan Mengenal Agama Shinto

Shinto tidak memiliki pendiri juga tidak memiliki kitab suci seperti Alkitab. Di Jepang, juga tidak ada pemberitaan atau penyebaran ajaran Shinto karena Shinto berakar dalam masyarakat dan tradisi Jepang.

“Dewa atau Tuhan Shinto” disebut Kami. Kami adalah roh-roh suci yang mengambil wujud dalam kehidupan manusia, seperti angin, hujan, gunung, laut, sungai, dan kesuburan. Dalam kepercayaan Shinto, manusia yang meninggal akan menjadi Kami. Mereka akan dihormati di dalam keluarga sebagai leluhur Kami. Kami dari orang yang luar biasa di dalam hidupnya diabadikan di beberapa kuil. Salah satunya The Sun Goddess Amaterasu yang dikenal sebagai Kami yang terbesar.

Berbeda dengan banyak agama monoteis (menganut satu kebenaran atau paham absolut, khususnya mengenai satu Tuhan), tidak ada yang mutlak atau absolut di Shinto. Tidak ada yang mutlak benar dan tidak ada yang mutlak salah, dan tidak ada yang sempurna. Shinto juga tidak percaya kepada adanya satu Tuhan, melainkan dewa-dewa (lebih dari satu).

Shinto juga dikenal sebagai kepercayaan yang optimis, di mana manusia dianggap adalah makhluk yang baik, dan kejahatan itu disebabkan oleh roh jahat. Oleh sebab itu, ritual Shinto kebanyakan berfokus pada proses pemurnian untuk mencegah roh-roh jahat itu masuk ke dalam kehidupan.

Kuil Shinto (Jingu) adalah tempat ibadah sekaligus tempat Kami tinggal. Ada banyak festival yang diadakan di Kuil Shinto atau dikenal dengan istilah Matsuri dan sifatnya terbuka untuk umum. Orang Shinto percaya, Kami bisa melihat dunia manusia saat Matsuri.

Imam Shinto yang melakukan ritual Shinto dan biasanya tinggal di dekat kuil. Pria dan wanita bisa menjadi imam, dan mereka boleh menikah dan mempunyai keluarga. Dalam melakukan ritual, para imam akan dibantu oleh wanita muda yang belum menikah. Mereka akan memakai kimono dan membantu melakukan ritual atau tugas-tugas di kuil.

Shinto membawa kebudayaan dalam bentuk bangunan kuil yang khas, juga kesenian seperti Teater Noh, kaligrafi, dan musik dansa kuno yang disebut gagaku.

Sejarah Agama Shinto di Jepang

Agaman Buddha mulai dikenal di Jepang sejak abad ke 6, kemudian dapat hidup berdampingan dengan Shinto. Beberapa penganut kepercayaan Buddha percaya bahwa Kami adalah perwujudan dari Buddha itu sendiri.

Dalam Periode Meiji, Shinto menjadi agama negara Jepang. Imam-imam Shinto menjadi pejabat negara, kuil-kuil pun mulai menerima dana bantuan dari pemerintah. Hal ini dilakukan untuk memisahkan Shinto dari agama Buddha sekaligus melihat Kaisar Jepang sebagai Dewa Shinto yang paling agung. Setelah Perang Dunia II hingga kini, agama Shinto dan negara dipisahkan.

Agama Shinto di Masa Kini

Orang-orang Jepang memohon pertolongan dalam menjalani hidup dengan berdoa di altar rumah atau dengan mengunjungi kuil-kuil. Jangan heran juga, teman-teman bisa menemukan berbagai jenis jimat (omamuri) yang dipercaya memberikan keselamatan lalu lintas, kesehatan, kesuksesan dalam bisnis, bisa mengikuti ujian dengan baik, dan sebagainya.

Selain itu, mayoritas upacara pernikahan orang-orang Jepang diadakan dalam kepercayaan dan ritual Shinto. Namun, ritual kematian biasanya dilakukan sesuai kepercayaan Buddha. Hal ini disebabkan kematian merupakan wujud ketidaksempurnaan dalam kepercayaan Shinto.

Sumber gambar: Flickr nihan

Recommended for you

Last modified: June 13, 2016

Yakin dengan itinerary kamu? Takut kesasar? Coba Tour Guide Online!

Silakan bertanya...

Email terjamin dan hanya dipakai untuk memberitahu balasan pertanyaan